Infectious Laryngo Tracheitis pada Unggas

Infectious Laryngo Tracheitis (ILT) tetap menjadi penyakit pernapasan yang sangat penting secara ekonomi dalam industri perunggasan global. Pendekatan saat ini berfokus pada pentingnya diferensiasi galur virus (genotyping), peninjauan program vaksinasi untuk menghadapi wabah terkini, dan peningkatan penggunaan vaksin yang tepat.

A. Penyebab dan Penularan

ILT disebabkan oleh virus Gallid alpha herpesvirus tipe 1 (GaHV-1), atau dikenal sebagai Infectious Laryngotracheitis Virus (ILTV). Virus ini memiliki kemampuan untuk bertahan dalam jaringan saraf unggas (viral latency) setelah pemulihan sehingga unggas yang sembuh akan menjadi karier seumur hidupnya dan dapat menyebarkan virus kembali saat mengalami stres (misalnya, perpindahan kandang atau awal masa produksi).

Penularan:
* Kontak Langsung: Melalui sekresi pernapasan dari unggas yang terinfeksi.
* Fomites: Benda mati yang terkontaminasi (peralatan kandang, tempat minum/makan, pakaian pekerja, bahkan kendaraan).
* Udara: Penyebaran melalui udara antar peternakan yang berdekatan.

B. Gejala Klinis

Gejala klinis ILT bervariasi tergantung pada keganasan (virulence) strain virus, yang terbagi dalam dua bentuk utama:

1. Bentuk Akut (Parah/Epizootik)

Ini adalah bentuk yang paling merugikan dan mudah dikenali:

* Kesulitan Bernapas Parah: Unggas megap-megap (gasping), batuk, dan mengeluarkan suara serak/mengorok.

* Keluarnya Eksudat Berdarah: Batuk parah dapat menyebabkan unggas mengeluarkan lendir bercampur darah dari hidung dan mulut, sering terlihat dengan gelengan kepala yang kuat.

* Asfiksia: Laring dan trakea tersumbat oleh gumpalan fibrinonecrotik atau darah, yang dapat menyebabkan kematian mendadak karena sesak napas.

* Mortalitas: Tingkat kematian (mortality) bisa mencapai 10-20% dan bahkan sampai 70-90% pada wabah yang sangat parah.

* Penurunan Produksi: Penurunan drastis pada konsumsi pakan dan produksi telur.

* Ciri Lain: Jengger dan pial tampak gelap/kebiruan (sianosis) karena kekurangan oksigen.

2. Bentuk Ringan (Subakut)

Bentuk ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit pernapasan ringan lainnya, sehingga sulit didiagnosis:

* Konjungtivitis: Mata berair, merah, dan bengkak (swollen eyelids).
* Leleran Nasal: Keluar lendir dari hidung.
* Trakeitis: Radang trakea ringan.
* Dampak: Penurunan konsumsi pakan dan produksi telur yang tidak terlalu parah.

C. Diagnosis dan Penanganan

1. Diagnosa yang bisa dilakukan adalah :

a. Histopatologi: Pemeriksaan jaringan trakea dan konjungtiva untuk menemukan lesi khas, seperti sinkitia dan badan inklusi intranuklear (pathognomonic).

b. PCR (Polymerase Chain Reaction): Metode diagnosis yang paling cepat dan sensitif untuk mendeteksi DNA virus. PCR juga digunakan untuk membedakan antara isolat virus lapangan (wabah) dan galur vaksin.

2. Penanganan dan Pencegahan

Belum ada pengobatan yang efektif untuk menghilangkan virus ILT. Penanganan berfokus pada pengendalian dan pencegahan.

1, Biosekuriti Ketat

2. Vaksinasi

a. Vaksin Hidup (Live Attenuated): CEO (Chicken Embryo Origin) atau TCO (Tissue Culture Origin).

Diberikan melalui tetes mata (paling disarankan), air minum, atau spray.

b. Vaksin Vektor: vPox-ILT atau vHVT-ILT. Diberikan melalui suntikan (in-ovo atau subkutan) atau wing-web.

**Perhatian: Vaksin hidup jika diberikan secara massal (spray atau air minum) memiliki risiko reaktivasi atau penyebaran yang dapat memicu wabah baru jika tidak digunakan dengan benar. Penggunaan vaksin vektor umumnya lebih stabil dan aman.

3. Penanganan Wabah – Isolasi, Culling, dan Re-vaccination flok yang sehat agar tidak tertular. Unggas yang sakit parah harus diisolasi. Jika wabah parah, desinfeksi kandang dan depopulasi (pembersihan total) mungkin diperlukan, diikuti dengan perpanjangan masa kosong kandang. Vaksinasi darurat (re-vaccination) dengan vaksin aktif dapat disarankan untuk unggas yang belum terinfeksi, tetapi harus dipastikan kondisinya memang benar-benar masih belum terpapar agar resiko \”memperparah\” kondisi tidak terjadi.

4. Dukungan Pemberian Antibiotik – Hanya untuk mengatasi infeksi bakteri sekunder (komplikasi) yang sering menyertai kerusakan saluran pernapasan akibat ILT.

💡 Poin Penting (Update)

Isu terbaru yang diangkat dalam komunitas kesehatan unggas adalah tentang perlunya **genotyping** untuk membedakan galur virus yang menyebabkan wabah di lapangan dengan galur vaksin, karena beberapa wabah baru-baru ini diduga berasal dari penggunaan vaksin hidup yang tidak tepat. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter hewan untuk merancang program vaksinasi yang tepat sangat ditekankan, terutama di daerah endemik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *