Sinkronikasi Estrus Pada Peternakan Babi

Setelah 2 bulan terakhir kita membahas mengenai Batch Management. Saat ini kita akan khusus belajar bersama tentang metode sinkronisasi estrus yang umumnya dijalankan di peternakan modern untuk mencapai batch management tersebut. Intervensi preparat hormon pada gilt pool (kelompok induk babi dara) adalah praktik umum dalam manajemen peternakan babi modern untuk mencapai kawin batch yang efisien. Tujuannya adalah membuat sejumlah besar gilts menunjukkan estrus (birahi) pada waktu yang bersamaan atau dalam jendela waktu yang sempit, sehingga dapat dikawinkan secara massal. Ini menjadi pondasi penting untuk menjalankan sistem batch management dan penerapan prinsip All-in All-out (AIAO).

Berikut adalah langkah-langkah metode sinkronisasi estrus:

A. Pemilihan dan Persiapan Gilt/Calon Induk

Sebelum memulai sinkronisasi hormon, pemilihan dan persiapan gilts yang tepat sangat krusial untuk keberhasilan program. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. Usia dan Berat Badan: Pilih gilts yang sudah mencapai usia pubertas (biasanya 5,5 – 6,5 bulan) dan berat badan yang memadai (sekitar 100-120 kg atau sesuai dengan target peternakan). Gilts yang terlalu muda atau terlalu kurus mungkin tidak merespons hormon dengan baik.

b. Kesehatan: Pastikan gilts dalam kondisi kesehatan prima, bebas dari penyakit, dan sudah divaksinasi sesuai program kesehatan peternakan.

c. Adaptasi Lingkungan: Berikan waktu bagi gilts untuk beradaptasi dengan lingkungan kandang dan pakan baru setelah dipindahkan ke gilt pool. Stres dapat mengganggu respons terhadap hormon.

d. Pemaparan Pejantan (Boar Exposure): Ini adalah langkah non-hormonal yang sangat penting dan seringkali dilakukan bersamaan atau sebelum intervensi hormon.

* Tujuan: Merangsang pubertas dan estrus pertama pada gilts yang belum pernah birahi, serta memperpendek interval dari birahi pertama ke birahi kedua.
* Metode: Tempatkan pejantan dewasa, aktif, dan memiliki libido tinggi di dekat gilts (kontak hidung ke hidung atau di kandang yang berdekatan) selama 15-30 menit per hari. Feromon dan stimulasi visual/auditori dari pejantan ini sangat efektif.
* Waktu: Mulai pemaparan pejantan setidaknya 2-3 minggu sebelum tanggal kawin yang direncanakan.

B. Metode Sinkronisasi Hormon Utama.

Ada dua pendekatan utama dalam sinkronisasi estrus pada babi menggunakan hormon:

a. Menggunakan Progesteron (Progestagen Oral – Altrenogest)

Ini adalah metode yang paling umum dan efektif untuk sinkronisasi estrus pada gilts.

* Mekanisme Kerja: Progestagen meniru efek progesteron alami, yang secara efektif \”menekan\” atau menunda estrus dan ovulasi selama diaplikasikan. Ketika pemberian dihentikan, kadar progestagen dalam tubuh menurun, memicu pelepasan hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang menyebabkan folikel berkembang dan gilts masuk ke fase estrus.

* Protokol Aplikasi:
1. Identifikasi Gilts: Pilih gilts yang akan disinkronkan. Idealnya, gilts sudah menunjukkan setidaknya satu kali estrus sebelumnya untuk respons yang lebih baik, tetapi juga efektif pada gilts yang belum pernah birahi asalkan sudah terpapar oleh pejantan.
2. Pemberian Dosis: Berikan Altrenogest secara oral (bisa cekok atau dicampur/disemprotkan di pakan) dengan dosis harian yang direkomendasikan.
3. Durasi Pemberian: Berikan setiap hari selama 14-18 hari berturut-turut. Konsistensi sangat penting dan jangan sampai ada dosis yang terlewat.
4. Penghentian Pemberian: Setelah periode yang ditentukan, hentikan pemberian Altrenogest.
5. Respons Estrus: Sebagian besar gilts akan menunjukkan estrus dalam 4-9 hari setelah penghentian pemberian. Puncak estrus biasanya terjadi pada hari ke-5 atau ke-6.
6. Kawin/IB: Lakukan kawin atau inseminasi buatan (IB) saat gilts menunjukkan estrus yang jelas (terutama refleks berdiri diam). Lakukan multiple insemination (misalnya, 12 dan 24 jam setelah estrus pertama terdeteksi) untuk hasil optimal.

* Keuntungan:
1. Tingkat sinkronisasi yang sangat tinggi (seringkali >85-90%).
2. Memungkinkan perencanaan kawin yang sangat presisi.
3. Dapat digunakan pada gilts yang cycling maupun yang belum cycling (dengan pemaparan pejantan).

* Kekurangan:
1. Membutuhkan penanganan individu setiap hari untuk memastikan gilts mengonsumsi dosis penuh.
2. Biaya hormon relatif mahal, perlu investasi dana dan tenaga ahli yang baik agar hasilnya baik
3. Membutuhkan waktu tunggu (withdrawal period) sebelum babi dapat disembelih jika tidak bunting.

b. Menggunakan Gonadotropin

Hormon kombinasi antara PMSG (Pregnant Mare Serum Gonadotropin, juga dikenal sebagai eCG) dan hCG (human Chorionic Gonadotropin).

* Mekanisme Kerja:
1. PMSG/eCG: Memiliki aktivitas FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang kuat, merangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel ovarium.
2. hCG: Memiliki aktivitas LH (Luteinizing Hormone) yang kuat, memicu ovulasi dan pembentukan korpus luteum.

* Protokol Aplikasi:
1. Identifikasi Gilts: Biasanya digunakan pada gilts yang belum mencapai pubertas (pre-pubertal) tetapi sudah mendekati usia pubertas yang diharapkan, atau pada gilts yang mengalami anestrus (tidak birahi).
2. Pemberian Dosis: Diberikan sebagai suntikan tunggal (intramuskular) dengan dosis yang direkomendasikan
3. Respons Estrus: Gilts biasanya akan menunjukkan estrus dalam 3-6 hari setelah injeksi.
4. Kawin/IB: Lakukan kawin atau IB saat gilts menunjukkan estrus.

* Keuntungan:
1. Suntikan tunggal, lebih mudah diaplikasikan.
2. Efektif untuk memicu estrus pertama pada gilts pre-pubertal atau mengatasi anestrus.

* Kekurangan:
1. Tingkat sinkronisasi mungkin tidak sepresisi Altrenogest.
2. Mungkin menyebabkan ovulasi berlebihan (superovulasi) pada beberapa gilts, yang bisa berdampak pada viabilitas embrio.
3. Lebih cocok untuk menginduksi estrus daripada sinkronisasi ketat.

c. Penggunaan Prostaglandin

* Mekanisme: Menyebabkan regresi korpus luteum (CL) yang merupakan struktur di ovarium yang menghasilkan progesteron. Dengan melisiskan CL, kadar progesteron akan turun dan memungkinkan folikel baru untuk tumbuh dan estrus kembali terjadi

* Aplikasi pada babi dara seringkali kurang efektif untuk proses sinkronisasi massal dibandingkan Progestagen. Hal ini karena babi dara tidak memiliki CL yang fungsional secara terus-menerus sampai mereka mengalami siklus estrus yang teratur. Prostaglandin ini lebih efektif pada induk babi yang sudah memiliki CL aktif atau sudah pernah melahirkan / baru selesai sapih

* Keuntungan – cepat melisiskan CL

* Kekurangan – tidak efektif untuk sinkronisasi pada babi dara yang belum memiliki siklus estrus yang teratur.

C. Pemaparan Pejantan Selama dan Setelah Perlakuan Hormon

Terlepas dari metode hormon yang digunakan, kontak/pemaparan pejantan yang berkelanjutan sangat penting. Beberapa hal yang perlu diperhatrikan adalah:

* Selama Pemberian Hormon: Meskipun gilts tidak akan birahi selama pemberian progestagen, pemaparan pejantan dapat membantu \”mempersiapkan\” sistem reproduksi mereka.

* Setelah Penghentian Hormon: Ini adalah fase paling krusial. Pejantan harus secara aktif berinteraksi dengan gilts (kontak hidung ke hidung, sentuhan) setidaknya dua kali sehari. Stimulasi dari pejantan akan mempercepat dan memperkuat ekspresi estrus.

D. Deteksi Estrus dan Waktu Kawin/IB

1. Deteksi Estrus: Lakukan deteksi estrus secara intensif (minimal 2 kali sehari, pagi dan sore) mulai dari hari ke-3 atau ke-4 setelah penghentian hormon (untuk Altrenogest) atau setelah injeksi (untuk Gonadotropin).
* Tanda-tanda Estrus: Pembengkakan dan kemerahan vulva, keluar lendir bening dari vulva, telinga tegak, gelisah, dan yang paling penting adalah refleks berdiri diam (standing heat) saat punggungnya ditekan atau dinaiki pejantan/pekerja kandang.

2. Waktu Kawin/IB:
* Setelah estrus terdeteksi, lakukan kawin atau IB. Untuk gilts, seringkali disarankan untuk melakukan 2x IB dengan interval 12-24 jam untuk memaksimalkan tingkat pembuahan dan ukuran litter.
* Misalnya, jika estrus terdeteksi pada pagi hari, lakukan IB pertama pada sore hari, dan IB kedua pada pagi hari berikutnya.

E. Pencatatan dan Evaluasi

1. Catat Tanggal: Catat tanggal mulai dan berakhirnya pemberian hormon, tanggal deteksi estrus, dan tanggal kawin/IB untuk setiap gilt.

2. Evaluasi Respons: Pantau persentase gilts yang menunjukkan estrus dan dikawinkan dalam jendela waktu yang diinginkan.

3. Analisis Hasil: Setelah melahirkan, analisis data seperti tingkat kebuntingan, jumlah anak lahir hidup, dan ukuran litter untuk mengevaluasi efektivitas program sinkronisasi.

Jadi, perlu diperhatikan sekali lagi beberapa hal agar proses sinkronisasi berjalan dengan baik, yaitu adalah

1. Kondisi tubuh – harus optimal sebelum proses sinkronisasi dilakukan
2. Nutrisi harus dipastikan baik, terutama protein dan energinya untuk mendukung respon hormon dan tingkat kesuburan
3. Manajemen lingkungan – kurangi faktor stress yang berpotensi mengganggurespon hormonal babi dara
4. Stimulasi pejantan menjadi faktor pendukung yang harus dilakukan untuk memperkuat respon estrus pada babi dara. Kontak visual, suara dan bau feromon akan membantu proses sinkronisasi lebih optimal
5. Catatan yang akurat – kapan pemberian hormon, kapan estrus terdeteksi, tanggal IB akan menjadi bahan evaluasi terkait program yang dijalankan dan acuan untuk penyesuaian jika diperlukan kedepannya
6. Kepatuhan protokol – disiplin dan komitmen menjadi faktor pendukung yang kuat

Demikian paparan lanjutan terkait batch management dengan menggunakan metode sinkronisasi estrus. Diperlukan dedikasi yang kuat untuk melaksanakan setiap protokol yang ada. Oleh karena itu, penting untuk selalu konsultasikan dengan dokter hewan atau ahli reproduksi babi anda sebelum memulai program sinkronisasi dengan preparat hormon. Panduan spesifik mengenai dosis, produk, dan protokol yang paling sesuai dengan kondisi peternakan Anda harus dijalankan dengan baik agar menghasilkan performance yang diharapkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *