Avian Influenza pada Unggas

Avian Influenza (AI) atau yang dikenal sebagai Flu Burung pada unggas. AI adalah penyakit viral yang memiliki dampak ekonomi sangat besar dan potensi risiko kesehatan masyarakat (zoonosis).

A. Etiologi (Penyebab)

Agen Penyebabnya adalah virus Influenza Tipe A dari famili Orthomyxoviridae. Subtipe virus Influenza A diklasifikasikan berdasarkan dua protein permukaan, yaitu Hemagglutinin (H) yang memiliki 16 subtipe (H1-H16) dan Neuraminidase (N) yang memiliki 9 subtipe (N1-N9). Kombinasi keduanya menghasilkan subtipe, contohnya H5N1 atau H9N2. Reservoir Alaminya adalah burung air liar (seperti bebek, angsa) dan seringkali tidak menunjukkan gejala sakit.

B. Klasifikasi Berdasarkan Keganasan (Patogenisitas) – Klasifikasi ini adalah kunci utama dalam menentukan penanganan dan potensi risiko:

1. Sangat Patogen – HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza) yang menyebabkan penyakit sistemik parah, kematian mendadak dengan tingkat mortalitas bisa mencapai 100% dalam 48 jam. Merupakan ancaman zoonosis tertinggi. Contoh : H5N1, H5N8, H7N9

2. Patogen Rendah – LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) yang menyebabkan gejala ringan (subklinis) atau hanya terbatas pada gangguan pernapasan dan penurunan produksi telur. LPAI bisa bermutasi menjadi HPAI. Contoh : H9N2, H6N1, H7N3

C. Penularan pada Unggas – AI sangat menular, terutama strain HPAI, dan dapat menyebar melalui:

1. Kontak Langsung: Kontak dengan unggas sakit atau bangkai unggas terinfeksi.

2. Feses: Kotoran unggas sakit mengandung konsentrasi virus yang sangat tinggi dan dapat bertahan lama di lingkungan.

3. Vektor Mekanis: Peralatan peternakan, kendaraan, pakaian, alas kaki, pakan, dan air minum yang terkontaminasi.

4. Burung Liar: Kontak unggas domestik dengan burung air liar (terutama pada peternakan itik atau ayam yang diumbar) menjadi jalur utama masuknya virus.

D. Gejala Klinis pada Unggas – Gejala sangat bervariasi tergantung pada strain virus (HPAI atau LPAI) dan jenis unggas:

1. Gejala HPAI (Sangat Patogen, seperti H5N1):

a. Kematian Mendadak (Sudden Death): Seringkali tanpa gejala yang jelas, tingkat kematian mencapai 80-100%.

b. Perubahan Warna: Jengger, pial, dan kaki berwarna biru keunguan (sianosis).

c. Pembengkakan: Pembengkakan pada kepala, kelopak mata, dan pial.

d. Gangguan Saraf: Kadang-kadang terlihat gejala saraf seperti kelumpuhan atau leher terpuntir, mirip ND (tetapi tidak dominan).

e. Pencernaan: Diare.

f. Reproduksi: Penurunan drastis produksi telur dengan kualitas cangkang yang buruk.

2. Gejala LPAI (Patogen Rendah) – Gejala biasanya ringan, terbatas pada gangguan pernapasan (batuk, bersin, ngorok) dan penurunan produksi/kualitas telur yang tidak disertai kematian tinggi.

E. Risiko Zoonosis (Ancaman bagi Manusia) – AI dianggap sebagai penyakit zoonosis karena memiliki potensi untuk menular dari hewan (unggas) ke manusia.

1. Strain Berisiko Tinggi:H5N1 dan H7N9 adalah subtipe yang paling sering menyebabkan infeksi serius dan kematian pada manusia.

2. Penularan ke Manusia: Terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung yang sangat erat dengan unggas sakit, terutama saat proses penyembelihan, penanganan bangkai, atau berada di lingkungan yang sangat terkontaminasi oleh feses unggas sakit.

3. Potensi Pandemi: Kekhawatiran terbesar adalah mutasi (reassortment) virus yang memungkinkannya menjadi strain yang mudah menular dari manusia ke manusia, yang dapat memicu pandemi global.

F. Pengendalian dan Pencegahan – Pengendalian AI harus melibatkan pendekatan komprehensif antara peternakan dan kesehatan masyarakat. Langkah pengendalian dan detail pelaksanaannya antara lain :

1. Biosekuriti ketat adalah hal yang paling krusial untuk mencegah masuk dan keluarnya virus. Meliputi pembatasan akses, disinfeksi rutin, dan kontrol terhadap burung liar/hama.

2. Vaksinasi – Melakukan program vaksinasi yang tepat dengan menggunakan vaksin AI yang sesuai dengan subtipe virus yang bersirkulasi di daerah tersebut.

3. Penanganan Wabah – Jika terjadi kasus HPAI, tindakan yang dianjurkan adalah Stamping Out (Depopulasi), yaitu pemusnahan seluruh unggas yang sakit dan kontak, diikuti dengan desinfeksi total dan kompensasi bagi peternak, karena HPAI umumnya tidak dapat diobati.

4. Pengobatan tidak ada yang spesifik karena penyebabnya virus. Pemberian antibiotik hanya untuk mengontrol infeksi sekunder bakteri, dan vitamin sebagai suportif.

5. Surveilans – Pemantauan rutin pada unggas, terutama burung liar dan pasar unggas hidup, untuk mendeteksi dini keberadaan virus baru atau mutasi.

Demikian uraian mengenai penyakit AI pada unggas. Semoga bermanfaat…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *