Dalam dunia peternakan, ada beberapa tipe pemeliharaan ternak babi yang umum diterapkan. Pemilihan tipe ini sangat bergantung pada skala usaha, modal, lahan yang tersedia, dan tujuan produksi. Secara garis besar, tipe pemeliharaan ternak babi bisa dibagi menjadi tiga kategori utama:
1. Sistem Ekstensif (Tradisional)
Sistem ini adalah cara pemeliharaan yang paling sederhana dan sering dilakukan oleh peternak skala rumahan atau keluarga.
a. Ciri-ciri Utama:
* Kandang relatif apa adanya: Babi sering kali dilepas atau dikandangkan dengan fasilitas yang sangat minim. Kandangnya tidak terstruktur dengan baik dan kebersihan seringnya kurang terjaga.
* Pakan Seadanya: Pakan utama babi berasal dari limbah rumah tangga atau sisa-sisa pertanian. Pemberian pakan terkadang tidak teratur dan nilai gizinya tidak seimbang, sehingga pertumbuhan babi relatif lebih lambat.
* Biosekuriti lemah: Kontrol terhadap penyakit sangat minim. Babi rentan terhadap penyakit karena sanitasi yang buruk dan kontak dengan lingkungan luar hampir tanpa batas karena kandang bisa diakses tanpa ada perlakuan sama sekali. Lokasi kandang seringnya memanfaatkan lahan sempit dibelakang rumah.
* Produktivitas Rendah: Bobot panen babi cenderung lebih rendah dan masa pertumbuhannya lebih lama.
b. Kelebihan:
* Biaya operasional dan modal sangat rendah.
* Tidak memerlukan lahan khusus yang luas.
* Cocok untuk peternak yang menjadikan babi sebagai usaha sampingan.
2. Sistem Semi-Intensif
Sistem ini merupakan kombinasi antara cara tradisional dan modern. Peternak mulai menyadari pentingnya manajemen yang lebih baik untuk meningkatkan hasil.
a. Ciri-ciri Utama:
* Kandang Permanen: Babi dikandangkan secara permanen, tetapi fasilitasnya belum secanggih peternakan modern.
* Pakan Kombinasi: Pemberian pakan sudah lebih baik. Peternak mulai kombinasi pakan limbah rumah tangga dengan konsentrat untuk meningkatkan nutrisi, namun belum sepenuhnya terukur.
* Biosekuriti Mulai Diterapkan: Ada upaya untuk menjaga kebersihan kandang, memberikan program vaksin dan medikasi walaupun terbatas.
* Produktivitas Menengah: Pertumbuhan babi lebih baik dibanding sistem ekstensif, namun belum seefisien sistem intensif.
b. Kelebihan:
* Biaya operasional relatif lebih rendah dibanding sistem intensif.
* Hasil panen lebih baik daripada sistem ekstensif.
* Merupakan jembatan bagi peternak tradisional yang ingin beralih ke sistem yang lebih modern.
3. Sistem Intensif (Modern)
Sistem ini adalah yang paling maju dan biasanya diterapkan pada peternakan skala besar dengan tujuan komersial yang terukur.
a. Ciri-ciri Utama:
* Kandang Terstruktur: Kandang dirancang modern dengan sistem ventilasi, pengolahan limbah (biogas atau pupuk), dan pembagian zona berdasarkan umur babi (induk, pejantan, pembesaran), serta investasi fasilitas yang lengkap.
* Pakan Terukur: Pemberian pakan dilakukan secara teratur dengan formulasi nutrisi yang tepat. Penggunaan pakan konsentrat yang berkualitas tinggi sangat dominan.
* Biosekuriti Ketat: Ada program vaksinasi, sanitasi, dan biosekuriti yang ketat untuk mencegah masuknya penyakit. Semua aktivitas di peternakan terkontrol.
* Produktivitas Tinggi: Babi tumbuh lebih cepat, tingkat kematian rendah, dan bobot panennya maksimal. Reproduksi juga dikelola dengan baik, bahkan menggunakan inseminasi buatan (IB).
b. Kelebihan:
* Efisiensi produksi sangat tinggi.
* Hasil panen konsisten dan berkualitas.
* Mampu menghasilkan babi dalam jumlah yang besar.
Memilih sistem pemeliharaan yang tepat adalah langkah awal yang sangat penting dalam membangun peternakan babi. Setiap sistem memiliki tantangan dan keunggulannya masing-masing.
